Posts

Mengharap Rahmat-Mu

Image
Ya Allah… Ketika umurku semakin hari semakin bertambah Maka, jatah hidupku di dunia otomatis berkurang Saat dosa dan kesalahanku semakin melimpah Namun, amal ibadahku hanya sedang-sedang Ya Allah… Dunia ini semakin ramai dengan harta dan perhiasan Semakin ramai dengan tindakan dosa dan maksiat Namun, saya sadar bahwa ini telah menjadi suratan Dalam sabda Nabi Sang Pembawa Rahmat Bahwa selesai zaman semakin bersahabat Ya Allah… Aku habiskan umurku dengan menduakan-Mu Karena alasan kesibukan dan permainan dunia Aku terjang hukum dan larangan-Mu Karena terperdaya oleh kemewahan dunia Ya Allah… Siang dan malam saya minta ampun kepada-Mu Dari seluruh salah dan dosa yang dilakukanku Siang dan malam saya mengharap ridha dan rahmat-Mu Agar amal ibadah yang sedikit ini dapat menolongku Ya Allah… Siramilah jasadku dengan ampunan-Mu Agar jasadku higienis dari lumpur dosa Sucikanlah hatiku dengan hidayah-Mu Supaya hatiku higienis dari noda-noda dosa al-Faqier...

Menguji Kewalian Gus Dur

Image
Tuan Guru Turmudzi Badruddin ialah ulama besar dari NTB dan merupakan sahabat Gus Dur. Guru Turmudzi termasuk yang sangat mempercayai kewalian Gus Dur. Bahkan, Guru Turmudzi sempat menguji, apakah Gus Dur termasuk wali atau bukan. Kisahnya bermula saat Gus Dur meninggal dunia pada Rabu (30/12/2009) pukul 18.45 WIB. Ketika itu, Guru Turmudzi bersama dengan rombongan malam itu pun eksklusif mencari tiket untuk penerbangan pagi ke Surabaya untuk mengikuti prosesi pemakaman Gus Dur di Jombang. Tibanya pesawat mayit Gus Dur dari Jakarta dan penerbangan Guru Turmudzi dari NTB hampir bersamaan. Dengan pengawalan, mayit Gus Dur sanggup melaju cepat dari Surabaya ke Jombang, sementara dia dan rombongannya mengikuti dari belakang kendaraan beroda empat mayit Gus Dur tersebut. Tuan Guru Turmudzi Badruddin Sayangnya, begitu memasuki Jombang kendaraan beroda empat rombongan yang ditumpangi Guru Turmudzi ketinggalan jauh dari kendaraan beroda empat mayit Gus Dur sebab tumpah ruahnya para p...

Ternyata Universitas Oxford ‘Meniru’ Sistem Pesantren

Image
 “… pesantren itu selama ini disebut pendidikan tradisional, iku kurang bimbing tenan. Terus sing tradisional ki dianggep luweh rendah timbangane sekolah modern. Aku kepengen ngomong, eh tak kandani yo, pesantren itu mulai ditiru wong sak donyo saiki. Besok sak donyo ki pesantren kabeh ” – Cak Nun ” … I realise that in fact, Oxford University its self is a pondok ”  - Dr. Afifi Al-Akiti (Dosen Studi Islam, Universitas Oxford, Inggris; Alumni Pondok Pesantren Kencong Jember Jawa Timur) Ketika banyak orang dengan besar hati menyampaikan ‘saya alumni ITB, ITS, UI, UGM, UB’ atau ‘saya alumni kampus luar negeri’, entah mengapa, meskipun saya alumni salah satu kampus tersebut, saya jauh lebih besar hati menyampaikan ‘saya alumni pondok pesantren’. Buat saya, pesantrenlah yang telah banyak mendefinisikan bagaimana saya memandang dan menjalani hidup dan kehidupan ini. Buat saya, pesantren bukanlah sekedar sekolah biasa. Buat saya, mondok di pesantren yaitu masuk kawah candr...

Hukum Tahlilan Sehabis Kematian

Image
Banyak dijumpai di sekitar masyarakat kita tradisi yang biasa dilakukan sehabis ada orang yang meninggal, diantaranya : a.) Tahlilan 7 Hari dan 40 Hari Imam Ahmad bin Hambal dalam kitab az-Zuhd menyatakan bahwa beramal selama tujuh hari yaitu perbuatan sunnah, alasannya merupakan salah satu bentuk do’a dan pertolongan untuk jenazah yang sedang diuji di dalam kubur selama 7 hari atau 40 hari. قَالَ طَاوُسُ إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِىْ قُبُوْرِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ يُطْعِمُوْا عَنْهُمْ تِلْكَ الْأَيَّامِ Imam Thawus berkata: “Sesungguhnya orang-orang yang meninggal dunia diuji selama tujuh hari dalam kubur mereka. Oleh alasannya itu ulama salaf mensunahkan beramal makanan (atas nama oraang yang meninggal dunia) pada hari-hari tersebut.” وَعَنْ عُبَيْدِ ابْنِ عُمَيْرٍ قَالَ يُفْتَنُّ رَجُلاَنِ مُؤْمِنٌ وَمُنَافِقٌ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيُفْتَنُّ سَبْعًا وَأَمَّا الْمُنَافِقُ فَيُفْتَنُّ أَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا Dari Ubaid bin Umair, ia berkata: “Dua...

H. Abdul Bari, Pemimpin Bahagia Memberi Dan Sederhana

Image
Beliau lahir pada sekitar tahun 1880 M. di desa Sidapurna, Dukuhturi, Tegal. Ayah dia berjulukan H. Abdul Syukur yang sehari-harinya bekerja sebagai petani. Ayah dia juga dikenal sebagai sosok kyai kampung atau tokoh masyarakat. Selain menjadi Khatib/Imam Shalat Jum'at di Masjid juga mengimami shalat jama'ah di Musholla akrab rumahnya. Namun, sangat disayangkan Musholla itu kini sudah tidak ada lagi lantaran dimakan oleh zaman. H. Abdul Bari ialah sosok cowok yang punya kemauan keras dan cerdas. Sehingga banyak dari beberapa orang bau tanah yang menginginkannya sebagai menantu. Disamping lantaran cerdas dan berkemauan keras juga sebagai putra seorang tokoh masyarakat. Pada sekitar tahun 1900 M., ayah dia menunaikan ibadah haji di Kota Suci Mekkah. Pada masa itu, seluruh jama’ah haji di Indonesia memakai Kapal Laut sebagai kendaraan menuju Kota Suci Mekkah dengan menempuh perjalanan selama ±3 bulan. Sebenarnya, dia sudah diajak oleh ayahnya untuk berangkat bersama ke Kota S...

Gus Dur Dikenal Seluruh Waliyullah Di Bumi

Image
Pada suatu ketika, Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, memanggil dua muridnya yang paling senior yakni KH. Fakhrurrozi Ishaq dan Habib Idrus Jamalullail. Pemanggilan itu berkenaan dengan penghinaan yang dilakukan kedua mubaligh itu kepada Gus Dur yang pada ketika itu telah menjadi Presiden RI ke-4. Menurut penuturan Ustadz Anto Djibril yang ketika itu hadir di pengajian hari Senin pagi, Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf bertanya kepada jama'ah yang hadir, “ Dimana Rozi dan Idrus bin Alwi? ” Dan keduanya yang hadir mengaji sama-sama menyahut, “ Hadir ya Habib .” Lalu Habib Abdurrahman berkata, “ Kamu berdua jangan pulang dulu ya, saya ada perlu. ” Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Setelah jama’ah pengajian Senin pagi sudah pulang semua, Habib Abdurrahman pun menasihati kedua muridnya yang dipanggil itu : “ Ya Rozi, Ya Habib Idrus, kalian berdua jikalau jadi mubaligh tidak usah berkata-kata kotor sama orang, apalagi sa...

3 “Jimat” Jenderal Soedirman

Image
Rakyat Indonesia mungkin tidak gila dengan nama besar Jenderal Soedirman. Sebab, Jenderal Soedirman yaitu Jenderal pertama kali yang dimiliki bangsa Indonesia. Dalam sejarahnya, ia selalu menang dalam setiap pertempuran melawan pasukan penjajah. Bahkan, dalam kondisi sakit parah pun, ia masih mau berjuang demi kemerdekaan Indonesia dan selalu menerima kemenangan. Adalah Jenderal Gatot Nurmantyo (Panglima TNI) yang membeberkan diam-diam kemenangan dan ketangguhan Jenderal Soedirman dalam mengusir penjajah. Ia menjelaskan, bahwa Jenderal Soedirman mempunyai 3 “Jimat” ampuh sehingga dalam setiap pertempuran melawan pasukan penjajah selalu menerima kemenangan. Pertama , Jenderal Soedirman mempunyai sebuah kendi berisi air yang dipakai untuk berwudhu. Dengan kendi berisi air itulah, Jenderal Soedirman selalu dalam keadaan suci dan bersih. Karena, jikalau seseorang selalu dalam keadaan mempunyai wudhu, pikiran dan semangatnya akan semakin jernih dan suci. Kedua , Jenderal Soedirman...